SAHABAT, GURU DAN MUSUH
Tapi terkadang, harga yang harus dibayar untuk sebuah pengakuan tersebut akan menjadi terlalu “mahal”. Terkadang saya–dan mungkin juga Anda—harus membayarnya dengan kepalsuan diri, atau dengan ketenggelaman dalam dunia keumuman.
Bagaimanapun, Anda hidup dan berkomunikasi dengan dunia luar, begitu juga saya dan yang lainnya. Ini adalah salah satu proses yang alamiah, sesuatu yang mau tidak mau harus kita jalani jika ingin hidup secara normal dan wajar. Intensitas, makna dan pola interaksi terhadap dunia luar bagi setiap individu pastilah berbeda, meskipun tak menutup kemungkinan ada hal-hal yang kebetulan sama. Kita sama-sama mempunyai keluarga, tapi hubungan kita terhadapnya belum tentu sama. Seperti juga dengan interaksi-interaksi sosial kita dalam lingkup yang lain, sebuah persahabatan misalnya.
Bicara lebih jauh tentang persahabatan, bahwa sahabat merupakan inspirasi hidup. Refleksi pribadi yang didapatakan dari seorang sahabat—disadari atau tidak—dapat menjadi bagian dari pembentuk pola pikir dan karakter diri. Bagi saya seorang sahabat adalah guru yang tidak sok tahu, berbeda dari sosok guru pada umumnya yang merasa paling berhak untuk menggurui. Ia berbeda dari guru yang memposisikan diri sebagai poci penuh ilmu terhadap cangkir kosong yang siap dituangi.
Sahabat kadang datang tanpa diundang, datang secara kebetulan, menyodorkan tangan kanan untuk berjabat, lalu tersenyum dan menyebut nama. Itu bisa terjadi di mana pun, di lingkungan akademis, lingkungan ibadah, lingkungan bisnis, hingga lingkungan politik. Sayangnya, yang datang belum tentu baik, ataupun buruk. Sampai di sini bisa kita anggap kemungkinan keduanya sama.
Persahabatan memberi kita kesan, rasa, dan inspirasi. Ada semacam kebanggaan ketika kita mengarungi kehidupan dalam kebersamaan. Sebuah kisah klasik akan kita kenang dalam bingkai emas persahabatan—yang mungkin kita katakan—sejati. Segala keindahan, tawa dan kesedihan menjadi pengisi hari-hari bersama.
Mungkin kita semua tahu bahwa pada diri manusia, selain terdapat “cahaya” kemalaikatan, terdapat juga sisi “gelap” keiblisan. Manusia adalah seperti campuran karakter keduanya. Satu hal yang sering kita lupa dari persahabatan, yakni sisi buruknya. Sahabat selain bisa menjadi guru yang demikian utama, bisa juga menjadi musuh yang begitu halusnya. Ia bisa seperti racun yang tak terkecap lidah. Mengapa saya menyebutnya sebagai musuh? Apa pun dan siapa pun pantas dipredikati musuh ketika hanya memberikan pengaruh-pengaruh buruk bagi kita.
Atas nama persahabatan, terkadang kita tenggelam dan melebur dalam “kebersamaan”. Pada kondisi itu pandangan kita biasanya menjadi kurang kritis, karena kehadiran seorang sahabat akhirnya lebih diutamakan dari isi persahabatan itu sendiri. Terlebih lagi jika seorang tersebut adalah sahabat yang sudah sangat intens bergaul dengan kita. Mungkin kita sering mendengar slogan klasik persahabatan, ‘satu untuk semua, semua untuk satu’. Saat menghayatinya, seringkali kita melebur ke dalam kebaikan dan keburukan sahabat-sahabat kita. Sebagian diri kita ‘hilang’, untuk kemudian diisi oleh pengaruh sahabat-sahabat kita. Terkadang sulit ketika kita harus mengambil satu keuntungan yang terlekat erat dengan kerugian-kerugiannya.
Lantas, apakah kita harus menjadi takut untuk melebur dalam satu persahabatan atau lingkungan tertentu? Ataukah kita harus mengasingkan diri? Saya kira kita tidak harus mengambil langkah yang terlalu ekstrim, karena semua pilihan mengandung konsekuensi dan resikonya masing-masing. Yang membedakan pilihan-pilihan tersebut hanya besar dan kecil resikonya, sehingga bisa dibandingkan mana yang lebih baik, dan akhirnya bisa dipilih.
Jika sebuah persahabatan memang menawarkan suatu pembelajaran dan kebaikan bagi kehidupan kita, mengapa harus takut untuk menceburkan diri kedalamnya? Sebaliknya, jika persahabatan hanya mengandung racun-racun yang merusak pola hidup kita, apakah kita cukup berani untuk terasing atau mengasingkan diri? Yang bagaimana ‘racun’, yang bagaimana ‘obat’? Itulah yang menjadi pertanyaan subjektif masing-masing kita, hanya kita sendiri yang dapat menempatkan sesuatu itu sebagai keuntungan atau kerugian. Sahabat adalah guru dan--terkadang menjadi--musuh sekaligus. Kita dapat mengambil sesuatu darinya, tapi bukan berarti harus selalu melebur di dalamnya. Apakah atas nama solidaritas dan kekompakan kita harus selalu sama dan seragam?
