Aksara, Baca-Tulis-Kaji

Saturday, March 11, 2006

SAHABAT, GURU DAN MUSUH

Ketika bayang kesepian melintas dalam pikiran kita, arti sebuah persahabatan akan terasa sangat berharga. Kerinduan akan ringannya canda tawa yang keluar dari bibir seorang sahabat bersemi dalam lorong-lorong pikiran yang sunyi. Saat-saat seperti itu membuat kesendirian seolah menjadi hantu yang menakutkan. Sebuah pengakuan dari orang lain menjadi demikian didambakan.

Tapi terkadang, harga yang harus dibayar untuk sebuah pengakuan tersebut akan menjadi terlalu “mahal”. Terkadang saya–dan mungkin juga Anda—harus membayarnya dengan kepalsuan diri, atau dengan ketenggelaman dalam dunia keumuman.

Bagaimanapun, Anda hidup dan berkomunikasi dengan dunia luar, begitu juga saya dan yang lainnya. Ini adalah salah satu proses yang alamiah, sesuatu yang mau tidak mau harus kita jalani jika ingin hidup secara normal dan wajar. Intensitas, makna dan pola interaksi terhadap dunia luar bagi setiap individu pastilah berbeda, meskipun tak menutup kemungkinan ada hal-hal yang kebetulan sama. Kita sama-sama mempunyai keluarga, tapi hubungan kita terhadapnya belum tentu sama. Seperti juga dengan interaksi-interaksi sosial kita dalam lingkup yang lain, sebuah persahabatan misalnya.

Bicara lebih jauh tentang persahabatan, bahwa sahabat merupakan inspirasi hidup. Refleksi pribadi yang didapatakan dari seorang sahabat—disadari atau tidak—dapat menjadi bagian dari pembentuk pola pikir dan karakter diri. Bagi saya seorang sahabat adalah guru yang tidak sok tahu, berbeda dari sosok guru pada umumnya yang merasa paling berhak untuk menggurui. Ia berbeda dari guru yang memposisikan diri sebagai poci penuh ilmu terhadap cangkir kosong yang siap dituangi.

Sahabat kadang datang tanpa diundang, datang secara kebetulan, menyodorkan tangan kanan untuk berjabat, lalu tersenyum dan menyebut nama. Itu bisa terjadi di mana pun, di lingkungan akademis, lingkungan ibadah, lingkungan bisnis, hingga lingkungan politik. Sayangnya, yang datang belum tentu baik, ataupun buruk. Sampai di sini bisa kita anggap kemungkinan keduanya sama.

Persahabatan memberi kita kesan, rasa, dan inspirasi. Ada semacam kebanggaan ketika kita mengarungi kehidupan dalam kebersamaan. Sebuah kisah klasik akan kita kenang dalam bingkai emas persahabatan—yang mungkin kita katakan—sejati. Segala keindahan, tawa dan kesedihan menjadi pengisi hari-hari bersama.

Mungkin kita semua tahu bahwa pada diri manusia, selain terdapat “cahaya” kemalaikatan, terdapat juga sisi “gelap” keiblisan. Manusia adalah seperti campuran karakter keduanya. Satu hal yang sering kita lupa dari persahabatan, yakni sisi buruknya. Sahabat selain bisa menjadi guru yang demikian utama, bisa juga menjadi musuh yang begitu halusnya. Ia bisa seperti racun yang tak terkecap lidah. Mengapa saya menyebutnya sebagai musuh? Apa pun dan siapa pun pantas dipredikati musuh ketika hanya memberikan pengaruh-pengaruh buruk bagi kita.

Atas nama persahabatan, terkadang kita tenggelam dan melebur dalam “kebersamaan”. Pada kondisi itu pandangan kita biasanya menjadi kurang kritis, karena kehadiran seorang sahabat akhirnya lebih diutamakan dari isi persahabatan itu sendiri. Terlebih lagi jika seorang tersebut adalah sahabat yang sudah sangat intens bergaul dengan kita. Mungkin kita sering mendengar slogan klasik persahabatan, ‘satu untuk semua, semua untuk satu’. Saat menghayatinya, seringkali kita melebur ke dalam kebaikan dan keburukan sahabat-sahabat kita. Sebagian diri kita ‘hilang’, untuk kemudian diisi oleh pengaruh sahabat-sahabat kita. Terkadang sulit ketika kita harus mengambil satu keuntungan yang terlekat erat dengan kerugian-kerugiannya.

Lantas, apakah kita harus menjadi takut untuk melebur dalam satu persahabatan atau lingkungan tertentu? Ataukah kita harus mengasingkan diri? Saya kira kita tidak harus mengambil langkah yang terlalu ekstrim, karena semua pilihan mengandung konsekuensi dan resikonya masing-masing. Yang membedakan pilihan-pilihan tersebut hanya besar dan kecil resikonya, sehingga bisa dibandingkan mana yang lebih baik, dan akhirnya bisa dipilih.

Jika sebuah persahabatan memang menawarkan suatu pembelajaran dan kebaikan bagi kehidupan kita, mengapa harus takut untuk menceburkan diri kedalamnya? Sebaliknya, jika persahabatan hanya mengandung racun-racun yang merusak pola hidup kita, apakah kita cukup berani untuk terasing atau mengasingkan diri? Yang bagaimana ‘racun’, yang bagaimana ‘obat’? Itulah yang menjadi pertanyaan subjektif masing-masing kita, hanya kita sendiri yang dapat menempatkan sesuatu itu sebagai keuntungan atau kerugian. Sahabat adalah guru dan--terkadang menjadi--musuh sekaligus. Kita dapat mengambil sesuatu darinya, tapi bukan berarti harus selalu melebur di dalamnya. Apakah atas nama solidaritas dan kekompakan kita harus selalu sama dan seragam?
Oleh Ihsan Fauzan
(Mahasiswa Desain Interior ITB '04, Redaktur Kronika)

KODOK KECIL YANG KERAS KEPALA

Alkisah hiduplah seekor kodok kecil yang tak puas hanya menjadi kodok kecil, ia ingin menjadi buaya. Ia berkata pada buaya, “Aku ingin menjadi buaya.” Buaya menjawab, “Kau tak bisa menjadi buaya, sebab kau itu kodok kecil.” “Tapi, aku ingin jadi buaya. Mesti apa aku biar bisa jadi buaya?” balas Si Kodok Kecil. Pak Buaya menjawab, “Tidak ada yang bisa diperbuat. Buaya terlahir sebagai buaya.” Si Kodok Kecil menjawab, “Tapi aku tak mau jadi kodok kecil, aku ingin jadi buaya. Tahukah Anda di manakah aku bisa menyuarakan sikap keras kepalaku agar aku diperbolehkan menjadi buaya?” “Aku tak tahu, tetapi barangkali Si Burung Hantu tahu,” jawab buaya itu. Maka Si Kodok Kecil masuk ke dalam hutan mencari burung hantu. Di tengah jalan ia bertemu dengan kodok kecil lainnya dan bertanya di mana ia bisa bertemu dengan burung hantu. “Dia itu satu-satunya yang berjaga di tengah malam,” ujar kodok kecil lainnya. “Tapi hati-hati kalau bicara, sebab burung hantu suka memakan kodok-kodok kecil.” Lalu Si Kodok Kecil menunggu hingga malam larut sambil membangun benteng pertahanan untuk berlindung dari serangan burung hantu. Ia menumpuk satu batu di atas batu lainnya sampai terbentuklah gua kecil dan ia masuk ke dalamnya.

Malam pun tiba dan kodok kecil itu berkata dari dalam gua, “Pak Burung Hantu, tahukah Anda di mana aku bisa menyuarakan sikap keras kepalaku sebagai kodok kecil agar aku diperbolehkan menjadi buaya?” “Siapa yang bertanya?” burung hantu balas bertanya. “Aku, aku di sini,” jawab Si Kodok Kecil. Lantas Si Burung Hantu itu melesat menyambar Si Kodok Kecil dengan cakarnya, namun karena Si Kodok Kecil itu berada dalam gua, Si Burung Hantu cuma menyambar sebongkah batu dan langsung melahapnya. Ia menyangka telah menangkap seekor kodok. Berat batu itu membuatnya terjungkal ke tanah dan ia mulas sekali. “Aduh!” erang Si Burung Hantu, “Bantu aku mengeluarkan batu ini, kalau tidak aku tidak bisa terbang.” Si Kodok Kecil berkata ia mau membantu jika Si Burung Hantu itu menjawab pertanyaannya. “Bantu dulu nanti aku jawab,” balas burung hantu. “Amit-amit,” kata Si Kodok Kecil, “jawab dulu, sebab kalau aku bantu mengeluarkan batu itu kau akan memangsaku bukan menjawabku.”

“Baiklah,” jawab burung hantu, “akan kujawab, orang yang mesti kau temui untuk melampiaskan ketidakpuasanmu itu adalah Pak Singa. Dia itu raja, dan ia tahu mengapa yang ini begini dan mengapa yang itu begitu. Sekarang bantu aku mengeluarkan batu.” “Ogah”, ujar Si Kodok Kecil. Si Kodok Kecil sudah tak ambil pusing dengan burung hantu itu dan ia pergi mencari singa.

Pak Singa hidup dalam gua. Si Kodok Kecil berpikir, jangan-jangan singa juga makan kodok kecil. Kodok kecil punya ide. Ia membenam dalam kubangan dan bergulung-gulung dalam lumpur. Kini ia menyamar seperti batu. Saat singa keluar dari guanya, Si Kodok Kecil berkata, “Pak Singa, aku datang hendak menunjukan sikap keras kepalaku terhadap keberadaanku sebagai kodok kecil, sebab aku ingin menjadi buaya.” “Siapa itu yang bicara?” tanya Pak Singa. “Aku.” “Tapi kau batu koral kecil, ngoceh apa kau tentang kodok kecil dan buaya?” jawab singa. “Begini, aku ingin menunjukkan sikap keras kepalaku karena seseorang tidak bisa menjadi siapa yang ia inginkan tetapi harus menjadi siapa ia sebelumnya,” jawab Si Kodok Kecil. “Ya, memang begitu,” jawab singa, “seseorang adalah seseorang dan ia tidak bisa menjadi orang lain. Yang bisa dilakukan seseorang adalah menjadi dirinya sendiri sebaik-baiknya,” Pak Singa mengaum filosofis.

Mendadak hujan turun. Lumpur yang membalut tubuh Si Kodok Kecil tersapu bersih dan Singa bisa melihat jelas itu kodok kecil bukan batu koral. Si kodok tidak tahu apakah singa memakan kodok karenanya ia melompat-lompat kembali ke kolamnya. Dengan sedih ia melompat, melompat dan terus melompat. Seseorang adalah seseorang dan tidak bisa menjadi orang lain dan yang bisa dilakukan cuma menjadi dirinya sebaik-baiknya. Merana dengan pikirannya sendiri, Si Kodok Kecil tiba di kolamnya dan buru-buru mencari Pak Buaya. Ia mencari ke mana-mana tetapi tidak ketemu. Ia bertanya ke hewan-hewan lainnya dan mereka menjawab, “Kau belum dengar? Seorang pemburu menangkapnya dan ia kini berubah menjadi dompet, sepatu,...” Si Kodok Kecil terkesiap, dan saat setiap orang mengira ia akan bilang ia bersyukur menjadi seekor kodok kecil dan lega dirinya bukan buaya, ia malah berteriak, “Betapa pentingnya menjadi seekor binatang yang tidak tolol dan goblok!” Maka ia mulai belajar dan berlatih menjadi seekor buaya yang terampil. Kelihatannya hasilnya cukup baik sampai ia berhasil memangsa seorang pemburu.

Konon kabarnya Si Kodok Kecil itu sekarang jadi dompet yang sangat mahal. “Dibuat dari kulit buaya yang sangat istimewa,” kata kolektor kaya yang membelinya.
Oleh Ageung Suriabagja
[Mahasiswa T. Sipil 2003, Redaktur Kronika]

Wednesday, February 08, 2006

Tentang Kartun

Koran terakhir yang saya baca hari ini masih memberitakan protes dan unjuk rasa terkait karikatur Muhammad. Dari awal saya mendengarnya, saya setuju jika apa yang dipublikasikan oleh koran Denmark itu memang salah. Lebih tepatnya, bodoh. Hal ini saya katakan bukan karena sentimen keberagamaan saya terusik. Saya sendiri bukan orang yang senang menghakimi pihak lain menggunakan dalil agama.

Dari kabar yang saya dengar, beberapa koran di barat sana (entah eropa atau amerika) sengaja memperbanyak karikatur ini sebagai bentuk dukungan terhadap kebebasan berekspresi. Dewasa ini 'kebebasan berekspresi' memang telah menjadi tuhan baru. Apa-apa dilawan dengan alasan ini. Artis-artis yang terang-terangan melakukan pornoaksi pun selalu menggunakan istilah ini sebagai tempat berlindung.

Masalahnya, ini bukan tentang kebebasan berekspresi. Saya melihat koran Denmark ini telah gagal dalam memahami posisi sakral Muhammad dalam masyarakat Islam. Saya pernah melihat cuplikan cover majalah yang mendukung koran tersebut dalam masalah ini. Pada cover tersebut, terdapat Buddha, Yesus, dan beberapa tokoh sakral agama lain sedang berdiri di atas awan, membicarakan kasus ini. Saya tidak tahu apa yang mereka katakan, karena bukan dalam Bahasa Inggris. Namun yang saya tangkap, seolah mereka berkata, "Ayolah Muhammad, kita kan sama-sama tokoh sakral. Kita aja ngga pernah marah biar gambar kita ada di mana-mana".

Kalau benar seperti itu, inilah bentuk dukungan yang tidak berdasar. Masyarakat Islam sudah sejak lama melarang pelukisan sang Nabi. Saya sendiri kurang tahu alasannya. Namun bagi saya itu langkah tepat untuk menghindari pengkultusan simbol. Saya yakin bahwa koran Denmark itu, atau kartunisnya, tidak mengetahui tradisi ini. Taruhlah, kalau selama ini tidak terdapat larangan, dan setiap rumah orang Islam selalu memiliki lukisan Muhammad (seperti lukisan Yesus bagi orang-orang Kristen), tentu saja kemarahan umat Islam tidak akan sebesar ini. Mungkin kita hanya akan mempermasalahkan maksud kartunnya saja. Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh koran Denmark ini adalah penghinaan dua kali lipat.

Jadi, apresiasi umat Islam terhadap Muhammad tidaklah sama dengan apresiasi umat Kristen terhadap Yesus, atau orang Buddha terhadap Sidharta, atau bahkan apresiasi orang barat terhadap masing-masing tokoh tersebut. Dan hal ini tidak untuk membeda-bedakan kemuliaan mereka. Kasus yang terjadi sekarang hanya menunjukkan kebodohan dan kesombongan sebuah redaksi penerbitan.
- alarif -

Tuesday, January 31, 2006

Pengumuman

Blog ini dimaksudkan sebagai media komunikasi Aksara. Nantinya akan ditaruh link-link ke blog para anggota Aksara ini. Jadi, harap diingat untuk mencantumkan identitas di tiap postingan. Kaya gini nih:

posted by alarif, ato
-alarif-, ato dll.lah

Jangan lupa ya!

@larif

Pengin nyambung dikit aja

Kalau saya sih mencari sesuatu karena yakin ia ada ...

Kebahasaan dan Kebangsaan

Menelusuri simpul kebangsaan kita
Bila dirunut dari kelahiran Boedi Oetomo sampai sekarang, hampir seratus tahun sudah usia sebuah ide untuk mendirikan entitas yang kini kita kenal sebagai “Indonesia”. Sistem ketatanegaraan, wilayah, pengakuan internasional, dan tentu saja penduduk telah dimiliki oleh entitas bernama “Indonesia” ini, sehingga layaklah ia disebut negara. Akan tetapi, pantaskah ia disebut sebagai bangsa?

Mungkin apa yang dikatakan Michael Ignatieff patut kita simak. Penulis Kanada ini mencoba menjawab, apa sebenarnya motif timbulnya perasaan kebangsaan. Menurut beliau, perasaan tersebut lahir dari kebutuhan akan sense of belonging. Manusia selalu ingin tergabung dalam sebuah ikatan yang lebih besar, baik berdasarkan faktor kesamaan budaya, agama, sejarah maupun bahasa. Dengan begitu manusia merasa aman, merasa dimengerti oleh sesamanya, dan yang terpenting : bebas menentukan masa depannya sendiri.

Kita, warga negara Indonesia, jelas tidak punya kesamaan agama sebagai pengikat. Rasanya kita juga tidak memiliki kesamaan budaya, meski di zaman orde baru dulu sering didengung-dengungkan perlunya perumusan sebuah budaya nasional. Bagaimana dengan sejarah? Saya teringat idiom “senasib sepenanggungan” yang merata diajarkan di buku-buku sejarah, sebagai alasan eksistensi bangsa ini. Idiom tersebut mencoba menjelaskan bahwa bangsa ini lahir karena ikatan nasib yang sama, penderitaan yang sama, oleh penjajah yang sama. Maka anak-anak sekolah pun dijejali dengan mitos bahwa Belanda menjajah kita 3,5 abad sementara Jepang hanya 3,5 tahun. Angka-angka yang terlalu indah, dan terlalu dibuat-buat.

Yang menarik, mitos ini berhasil menyebar karena faktor pengikat keempat yang juga “dibuat-buat”, namun sepertinya paling berhasil mendefinisikan kita sebagai sebuah bangsa. Faktor tersebut adalah bahasa. Semua bahasa memang buatan, sebab benda-benda diciptakan tanpa nama, dan kitalah yang memberi mereka nama. Namun terlepas dari itu, bahasa Indonesia, gubahan bahasa Melayu yang kita kembangkan sebagai bahasa nasional, memungkinkan dibangunnya basis informasi yang sama bagi kita. Bayangkan, bila bahasa Indonesia tidak berhasil menjadi bahasa “nasional”. Informasi mengenai nilai, ilmu, sejarah, budaya dll. yang dikembangkan masing-masing pribadi maupun kelompok di negeri ini, akan terkunci dalam bahasa ibu mereka masing-masing. Tidak akan ada yang dipertukarkan dan menjadi milik bersama. Bagaimanapun, informasi yang menjadi milik bersama membantu membentuk persepsi bersama, yang kemudian mengikat para pemakainya pada komunitas yang sama.

Problem kebahasaan, problem keilmuan
Dengan berkembangnya bahasa nasional, tidak menjadi soal bila dalam kenyataannya Indonesia adalah negara dengan penduduk multibahasawan. Toh, bahasa Indonesia berhasil meraih supremasi di atas bahasa-bahasa lain yang hidup di negeri ini. Tidak ada anggota etnis, pemeluk agama, maupun penduduk negeri ini yang menolak menggunakannya sebagai sarana bertukar informasi. Ketidakmampuan menggunakan bahasa Indonesia, akan dianggap sebagai ketidaklaziman yang menyulitkan komunikasi publik. Ketidakmauan menggunakannya bahkan mungkin akan dianggap sebagai ketololan.

Dengan keberhasilan tersebut, bukan berarti penggunaan bahasa Indonesia lepas dari hambatan. Setidaknya saya melihat ada sebuah hambatan berarti yang mengiringi perkembangan penggunaan bahasa nasional kita. Hambatan tersebut adalah ketidakseimbangan antara laju perkembangan kosakata pengetahuan dan informasi di dunia internasional, dengan laju proses penyerapan dan pemadanannya dalam bahasa Indonesia. Seringkali sebuah istilah ilmiah asing sedemikian sulit dicari padanannya, sehingga padanan istilah barunya harus diperkenalkan. Misalnya, istilah-istilah seperti brittle (sifat material yang mudah patah, retak) dan steady (keadaan sistem yang tidak berubah terhadap waktu dalam kondisi tertentu) diterjemahkan menjadi “getas” dan “tunak”, kosakata-kosakata yang bahkan sebenarnya juga terdengar ‘asing’ di telinga kalangan akademis yang menggunakannya.

Kadangkala sebuah istilah asing langsung saja diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan pemakaian imbuhan dan perubahan fonem (lambang bunyi). “Rektifikasi” (dari rectification) adalah salah satu contohnya. Dalam khazanah rekayasa kelistrikan, istilah ini bermakna pengubahan arus bolak-balik menjadi arus searah. Dalam matematika istilah ini berarti mencari panjang sebuah kurva, sedangkan dalam pengolahan citra penginderaan jauh, rektifikasi berarti proses koreksi terhadap kesalahan geometrik sensor. Terlalu panjang dan beragam untuk diterjemahkan bukan?

Alasan kemudahan dan keluwesan, menyebabkan proses penyerapan istilah asing lebih sering digunakan dibandingkan pencarian padananannya dalam kosakata Indonesia. Namun sesekali, ada saja proses penyerapan yang menurut saya ‘semena-mena’. Dalam sebuah literatur ilmu kebumian, saya pernah menemukan istilah “daktil” (dari ductile, kemampuan material padat untuk dapat ditempa dan ditarik menjadi tipis), yang jelas-jelas penyerapannya hanya dengan pengubahan fonem. Lalu, mengapa kita tidak sekalian saja menggunakan talivisyen (dari television) sebagai pengganti kosakata televisi? Bangsa Malaysia toh tidak bermasalah dengan itu. Akan tetapi, bila sebuah bahasa tidak lagi sekedar menyerap istilah, tetapi juga aturan dan pola, apalagi yang tersisa sebagai identitasnya?

Bahasa memang sebuah contoh sistem yang menyediakan ruang luas bagi beragam perkecualian. Kata “tani” dan “tinggi” misalnya, dikecualikan dari aturan yang menyebutkan bahwa kata dasar berawalan konsonan /t/ akan lebur menjadi konsonan /n/ bila bertemu imbuhan pe- ( “tari” menjadi “penari”, “tulis” menjadi “penulis”). Akan tetapi, sebagaimana lazimnya sebuah sistem, tetap harus ada asas dan selanjutnya aturan yang menjadi identitas dan ‘nyawa’ sistem tersebut. Semakin taat asas, semakin mudah sebuah bahasa digunakan dan dipelajari.

Kita boleh berbangga, bahasa Indonesia termasuk kategori yang cukup taat asas dalam hal hubungan fonem dan bunyi ujaran. Satu fonem dalam bahasa nasional kita, umumnya hanya mengandung satu jenis bunyi ujaran. Bandingkanlah bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Vokal /o/ dalam bahasa Inggris bisa digunakan untuk menghasilkan bunyi ujaran yang berbeda-beda, seperti dalam kata low, down, dan poor. Hubungan yang taat asas ini akan lebih tampak lagi, bila kita membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa Prancis.

Perlunya komunitas yang otoritatif
Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab agar bahasa kita betul-betul menjadi taat asas? Ada dua pihak yang kiranya dapat menjadi tumpuan harapan kita. Mereka adalah media massa dan orang-orang yang otoritatif dalam disiplin ilmunya : ilmuwan dan teknokrat, termasuk para pakar kebahasaan. Mereka adalah komunitas yang ujarannya diterima sebagai kebenaran oleh awam.

Ilmuwan, teknokrat dan pakar kebahasaan, ibarat pengawas gudang khazanah keilmuan Indonesia. Tugas mereka adalah mencocokkan apakah istilah asing yang berebutan masuk sudah sesuai dengan daftar kebutuhan. Mereka memilah dan memilih, untuk menentukan apakah istilah yang akan masuk memang belum tersedia di gudang, atau malah tumpang tindih dengan kosakata yang sudah ada.

Setelah para pakar selesai memilah, media massa datang untuk memainkan peran sebagai grosir. Mereka membeli kosakata apa saja yang telah berada di gudang dan menjualnya dalam partai besar kepada masyarakat. Dengan begitu, kosakata-kosakata yang ‘asing’ dapat segera ‘dicicipi’ dan ‘dikunyah’ oleh masyarakat, sehingga lama-kelamaan mereka akan terbiasa dengannya. Bila komunitas yang otoritatif ini tidak mau memikul tanggung jawab tersebut, maka kemungkinan besar masyarakat akan ‘kelaparan’ atau malah ‘keracunan’ istilah.




Sunday, January 29, 2006

Pada Awalnya..

Aksara, sebuah keluarga dari para pencari.
Para pencari yang rindu pada kehakikian.
Karena kehakikian mungkin bersembunyi.
Karena kehakikian mungkin pelik.
Karena kehakikian mungkin tak ada.
Karena itu, kami mencari..