Aksara, Baca-Tulis-Kaji

Tuesday, January 31, 2006

Pengumuman

Blog ini dimaksudkan sebagai media komunikasi Aksara. Nantinya akan ditaruh link-link ke blog para anggota Aksara ini. Jadi, harap diingat untuk mencantumkan identitas di tiap postingan. Kaya gini nih:

posted by alarif, ato
-alarif-, ato dll.lah

Jangan lupa ya!

@larif

Pengin nyambung dikit aja

Kalau saya sih mencari sesuatu karena yakin ia ada ...

Kebahasaan dan Kebangsaan

Menelusuri simpul kebangsaan kita
Bila dirunut dari kelahiran Boedi Oetomo sampai sekarang, hampir seratus tahun sudah usia sebuah ide untuk mendirikan entitas yang kini kita kenal sebagai “Indonesia”. Sistem ketatanegaraan, wilayah, pengakuan internasional, dan tentu saja penduduk telah dimiliki oleh entitas bernama “Indonesia” ini, sehingga layaklah ia disebut negara. Akan tetapi, pantaskah ia disebut sebagai bangsa?

Mungkin apa yang dikatakan Michael Ignatieff patut kita simak. Penulis Kanada ini mencoba menjawab, apa sebenarnya motif timbulnya perasaan kebangsaan. Menurut beliau, perasaan tersebut lahir dari kebutuhan akan sense of belonging. Manusia selalu ingin tergabung dalam sebuah ikatan yang lebih besar, baik berdasarkan faktor kesamaan budaya, agama, sejarah maupun bahasa. Dengan begitu manusia merasa aman, merasa dimengerti oleh sesamanya, dan yang terpenting : bebas menentukan masa depannya sendiri.

Kita, warga negara Indonesia, jelas tidak punya kesamaan agama sebagai pengikat. Rasanya kita juga tidak memiliki kesamaan budaya, meski di zaman orde baru dulu sering didengung-dengungkan perlunya perumusan sebuah budaya nasional. Bagaimana dengan sejarah? Saya teringat idiom “senasib sepenanggungan” yang merata diajarkan di buku-buku sejarah, sebagai alasan eksistensi bangsa ini. Idiom tersebut mencoba menjelaskan bahwa bangsa ini lahir karena ikatan nasib yang sama, penderitaan yang sama, oleh penjajah yang sama. Maka anak-anak sekolah pun dijejali dengan mitos bahwa Belanda menjajah kita 3,5 abad sementara Jepang hanya 3,5 tahun. Angka-angka yang terlalu indah, dan terlalu dibuat-buat.

Yang menarik, mitos ini berhasil menyebar karena faktor pengikat keempat yang juga “dibuat-buat”, namun sepertinya paling berhasil mendefinisikan kita sebagai sebuah bangsa. Faktor tersebut adalah bahasa. Semua bahasa memang buatan, sebab benda-benda diciptakan tanpa nama, dan kitalah yang memberi mereka nama. Namun terlepas dari itu, bahasa Indonesia, gubahan bahasa Melayu yang kita kembangkan sebagai bahasa nasional, memungkinkan dibangunnya basis informasi yang sama bagi kita. Bayangkan, bila bahasa Indonesia tidak berhasil menjadi bahasa “nasional”. Informasi mengenai nilai, ilmu, sejarah, budaya dll. yang dikembangkan masing-masing pribadi maupun kelompok di negeri ini, akan terkunci dalam bahasa ibu mereka masing-masing. Tidak akan ada yang dipertukarkan dan menjadi milik bersama. Bagaimanapun, informasi yang menjadi milik bersama membantu membentuk persepsi bersama, yang kemudian mengikat para pemakainya pada komunitas yang sama.

Problem kebahasaan, problem keilmuan
Dengan berkembangnya bahasa nasional, tidak menjadi soal bila dalam kenyataannya Indonesia adalah negara dengan penduduk multibahasawan. Toh, bahasa Indonesia berhasil meraih supremasi di atas bahasa-bahasa lain yang hidup di negeri ini. Tidak ada anggota etnis, pemeluk agama, maupun penduduk negeri ini yang menolak menggunakannya sebagai sarana bertukar informasi. Ketidakmampuan menggunakan bahasa Indonesia, akan dianggap sebagai ketidaklaziman yang menyulitkan komunikasi publik. Ketidakmauan menggunakannya bahkan mungkin akan dianggap sebagai ketololan.

Dengan keberhasilan tersebut, bukan berarti penggunaan bahasa Indonesia lepas dari hambatan. Setidaknya saya melihat ada sebuah hambatan berarti yang mengiringi perkembangan penggunaan bahasa nasional kita. Hambatan tersebut adalah ketidakseimbangan antara laju perkembangan kosakata pengetahuan dan informasi di dunia internasional, dengan laju proses penyerapan dan pemadanannya dalam bahasa Indonesia. Seringkali sebuah istilah ilmiah asing sedemikian sulit dicari padanannya, sehingga padanan istilah barunya harus diperkenalkan. Misalnya, istilah-istilah seperti brittle (sifat material yang mudah patah, retak) dan steady (keadaan sistem yang tidak berubah terhadap waktu dalam kondisi tertentu) diterjemahkan menjadi “getas” dan “tunak”, kosakata-kosakata yang bahkan sebenarnya juga terdengar ‘asing’ di telinga kalangan akademis yang menggunakannya.

Kadangkala sebuah istilah asing langsung saja diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan pemakaian imbuhan dan perubahan fonem (lambang bunyi). “Rektifikasi” (dari rectification) adalah salah satu contohnya. Dalam khazanah rekayasa kelistrikan, istilah ini bermakna pengubahan arus bolak-balik menjadi arus searah. Dalam matematika istilah ini berarti mencari panjang sebuah kurva, sedangkan dalam pengolahan citra penginderaan jauh, rektifikasi berarti proses koreksi terhadap kesalahan geometrik sensor. Terlalu panjang dan beragam untuk diterjemahkan bukan?

Alasan kemudahan dan keluwesan, menyebabkan proses penyerapan istilah asing lebih sering digunakan dibandingkan pencarian padananannya dalam kosakata Indonesia. Namun sesekali, ada saja proses penyerapan yang menurut saya ‘semena-mena’. Dalam sebuah literatur ilmu kebumian, saya pernah menemukan istilah “daktil” (dari ductile, kemampuan material padat untuk dapat ditempa dan ditarik menjadi tipis), yang jelas-jelas penyerapannya hanya dengan pengubahan fonem. Lalu, mengapa kita tidak sekalian saja menggunakan talivisyen (dari television) sebagai pengganti kosakata televisi? Bangsa Malaysia toh tidak bermasalah dengan itu. Akan tetapi, bila sebuah bahasa tidak lagi sekedar menyerap istilah, tetapi juga aturan dan pola, apalagi yang tersisa sebagai identitasnya?

Bahasa memang sebuah contoh sistem yang menyediakan ruang luas bagi beragam perkecualian. Kata “tani” dan “tinggi” misalnya, dikecualikan dari aturan yang menyebutkan bahwa kata dasar berawalan konsonan /t/ akan lebur menjadi konsonan /n/ bila bertemu imbuhan pe- ( “tari” menjadi “penari”, “tulis” menjadi “penulis”). Akan tetapi, sebagaimana lazimnya sebuah sistem, tetap harus ada asas dan selanjutnya aturan yang menjadi identitas dan ‘nyawa’ sistem tersebut. Semakin taat asas, semakin mudah sebuah bahasa digunakan dan dipelajari.

Kita boleh berbangga, bahasa Indonesia termasuk kategori yang cukup taat asas dalam hal hubungan fonem dan bunyi ujaran. Satu fonem dalam bahasa nasional kita, umumnya hanya mengandung satu jenis bunyi ujaran. Bandingkanlah bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Vokal /o/ dalam bahasa Inggris bisa digunakan untuk menghasilkan bunyi ujaran yang berbeda-beda, seperti dalam kata low, down, dan poor. Hubungan yang taat asas ini akan lebih tampak lagi, bila kita membandingkan bahasa Indonesia dengan bahasa Prancis.

Perlunya komunitas yang otoritatif
Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab agar bahasa kita betul-betul menjadi taat asas? Ada dua pihak yang kiranya dapat menjadi tumpuan harapan kita. Mereka adalah media massa dan orang-orang yang otoritatif dalam disiplin ilmunya : ilmuwan dan teknokrat, termasuk para pakar kebahasaan. Mereka adalah komunitas yang ujarannya diterima sebagai kebenaran oleh awam.

Ilmuwan, teknokrat dan pakar kebahasaan, ibarat pengawas gudang khazanah keilmuan Indonesia. Tugas mereka adalah mencocokkan apakah istilah asing yang berebutan masuk sudah sesuai dengan daftar kebutuhan. Mereka memilah dan memilih, untuk menentukan apakah istilah yang akan masuk memang belum tersedia di gudang, atau malah tumpang tindih dengan kosakata yang sudah ada.

Setelah para pakar selesai memilah, media massa datang untuk memainkan peran sebagai grosir. Mereka membeli kosakata apa saja yang telah berada di gudang dan menjualnya dalam partai besar kepada masyarakat. Dengan begitu, kosakata-kosakata yang ‘asing’ dapat segera ‘dicicipi’ dan ‘dikunyah’ oleh masyarakat, sehingga lama-kelamaan mereka akan terbiasa dengannya. Bila komunitas yang otoritatif ini tidak mau memikul tanggung jawab tersebut, maka kemungkinan besar masyarakat akan ‘kelaparan’ atau malah ‘keracunan’ istilah.




Sunday, January 29, 2006

Pada Awalnya..

Aksara, sebuah keluarga dari para pencari.
Para pencari yang rindu pada kehakikian.
Karena kehakikian mungkin bersembunyi.
Karena kehakikian mungkin pelik.
Karena kehakikian mungkin tak ada.
Karena itu, kami mencari..