Aksara, Baca-Tulis-Kaji

Saturday, March 11, 2006

KODOK KECIL YANG KERAS KEPALA

Alkisah hiduplah seekor kodok kecil yang tak puas hanya menjadi kodok kecil, ia ingin menjadi buaya. Ia berkata pada buaya, “Aku ingin menjadi buaya.” Buaya menjawab, “Kau tak bisa menjadi buaya, sebab kau itu kodok kecil.” “Tapi, aku ingin jadi buaya. Mesti apa aku biar bisa jadi buaya?” balas Si Kodok Kecil. Pak Buaya menjawab, “Tidak ada yang bisa diperbuat. Buaya terlahir sebagai buaya.” Si Kodok Kecil menjawab, “Tapi aku tak mau jadi kodok kecil, aku ingin jadi buaya. Tahukah Anda di manakah aku bisa menyuarakan sikap keras kepalaku agar aku diperbolehkan menjadi buaya?” “Aku tak tahu, tetapi barangkali Si Burung Hantu tahu,” jawab buaya itu. Maka Si Kodok Kecil masuk ke dalam hutan mencari burung hantu. Di tengah jalan ia bertemu dengan kodok kecil lainnya dan bertanya di mana ia bisa bertemu dengan burung hantu. “Dia itu satu-satunya yang berjaga di tengah malam,” ujar kodok kecil lainnya. “Tapi hati-hati kalau bicara, sebab burung hantu suka memakan kodok-kodok kecil.” Lalu Si Kodok Kecil menunggu hingga malam larut sambil membangun benteng pertahanan untuk berlindung dari serangan burung hantu. Ia menumpuk satu batu di atas batu lainnya sampai terbentuklah gua kecil dan ia masuk ke dalamnya.

Malam pun tiba dan kodok kecil itu berkata dari dalam gua, “Pak Burung Hantu, tahukah Anda di mana aku bisa menyuarakan sikap keras kepalaku sebagai kodok kecil agar aku diperbolehkan menjadi buaya?” “Siapa yang bertanya?” burung hantu balas bertanya. “Aku, aku di sini,” jawab Si Kodok Kecil. Lantas Si Burung Hantu itu melesat menyambar Si Kodok Kecil dengan cakarnya, namun karena Si Kodok Kecil itu berada dalam gua, Si Burung Hantu cuma menyambar sebongkah batu dan langsung melahapnya. Ia menyangka telah menangkap seekor kodok. Berat batu itu membuatnya terjungkal ke tanah dan ia mulas sekali. “Aduh!” erang Si Burung Hantu, “Bantu aku mengeluarkan batu ini, kalau tidak aku tidak bisa terbang.” Si Kodok Kecil berkata ia mau membantu jika Si Burung Hantu itu menjawab pertanyaannya. “Bantu dulu nanti aku jawab,” balas burung hantu. “Amit-amit,” kata Si Kodok Kecil, “jawab dulu, sebab kalau aku bantu mengeluarkan batu itu kau akan memangsaku bukan menjawabku.”

“Baiklah,” jawab burung hantu, “akan kujawab, orang yang mesti kau temui untuk melampiaskan ketidakpuasanmu itu adalah Pak Singa. Dia itu raja, dan ia tahu mengapa yang ini begini dan mengapa yang itu begitu. Sekarang bantu aku mengeluarkan batu.” “Ogah”, ujar Si Kodok Kecil. Si Kodok Kecil sudah tak ambil pusing dengan burung hantu itu dan ia pergi mencari singa.

Pak Singa hidup dalam gua. Si Kodok Kecil berpikir, jangan-jangan singa juga makan kodok kecil. Kodok kecil punya ide. Ia membenam dalam kubangan dan bergulung-gulung dalam lumpur. Kini ia menyamar seperti batu. Saat singa keluar dari guanya, Si Kodok Kecil berkata, “Pak Singa, aku datang hendak menunjukan sikap keras kepalaku terhadap keberadaanku sebagai kodok kecil, sebab aku ingin menjadi buaya.” “Siapa itu yang bicara?” tanya Pak Singa. “Aku.” “Tapi kau batu koral kecil, ngoceh apa kau tentang kodok kecil dan buaya?” jawab singa. “Begini, aku ingin menunjukkan sikap keras kepalaku karena seseorang tidak bisa menjadi siapa yang ia inginkan tetapi harus menjadi siapa ia sebelumnya,” jawab Si Kodok Kecil. “Ya, memang begitu,” jawab singa, “seseorang adalah seseorang dan ia tidak bisa menjadi orang lain. Yang bisa dilakukan seseorang adalah menjadi dirinya sendiri sebaik-baiknya,” Pak Singa mengaum filosofis.

Mendadak hujan turun. Lumpur yang membalut tubuh Si Kodok Kecil tersapu bersih dan Singa bisa melihat jelas itu kodok kecil bukan batu koral. Si kodok tidak tahu apakah singa memakan kodok karenanya ia melompat-lompat kembali ke kolamnya. Dengan sedih ia melompat, melompat dan terus melompat. Seseorang adalah seseorang dan tidak bisa menjadi orang lain dan yang bisa dilakukan cuma menjadi dirinya sebaik-baiknya. Merana dengan pikirannya sendiri, Si Kodok Kecil tiba di kolamnya dan buru-buru mencari Pak Buaya. Ia mencari ke mana-mana tetapi tidak ketemu. Ia bertanya ke hewan-hewan lainnya dan mereka menjawab, “Kau belum dengar? Seorang pemburu menangkapnya dan ia kini berubah menjadi dompet, sepatu,...” Si Kodok Kecil terkesiap, dan saat setiap orang mengira ia akan bilang ia bersyukur menjadi seekor kodok kecil dan lega dirinya bukan buaya, ia malah berteriak, “Betapa pentingnya menjadi seekor binatang yang tidak tolol dan goblok!” Maka ia mulai belajar dan berlatih menjadi seekor buaya yang terampil. Kelihatannya hasilnya cukup baik sampai ia berhasil memangsa seorang pemburu.

Konon kabarnya Si Kodok Kecil itu sekarang jadi dompet yang sangat mahal. “Dibuat dari kulit buaya yang sangat istimewa,” kata kolektor kaya yang membelinya.
Oleh Ageung Suriabagja
[Mahasiswa T. Sipil 2003, Redaktur Kronika]

1 Comments:

  • At 12:49 AM, Blogger reny...^o^ said…

    hahaha...
    bodor...
    tapi bener...
    waktu kita coba jadi orang lain, kita ga bakal bisa...
    Walaupun bisa, itu ga bakal btahan lama...
    Kita jadilah kita yang memcerminkan yang terbaik dari kita...
    Perumpamaan yg lucu...
    Jazka kahair, k...

     

Post a Comment

<< Home